tut-asmaraJANUADI RECORD – Nama penyanyi seperti Suliana, Netty Vera Bangun, Rimta Mariam Ginting, atau Ni Made Suastini mungkin tidak dikenal di pentas musik nasional. Mereka adalah bintang-bintang lokal yang hidup dari industri musik daerah. Mereka menjadikan panggung musik pop daerah terus bergairah.

Daerah memiliki musik pop berikut bintang-bintang lokal sendiri. Di Karo, Sumatera Utara, ada penyanyi pop tenar bernama Netty Vera Bangun (44). Ada pula Rimta Mariam Ginting (24) yang membuntuti karier Netty. Di tanah Batak Toba, nama Dompak Sinaga dan Trio Elexis begitu populer sebagai penyanyi pop.

Di Bali ada penyanyi Ni Made Suastini atau Dek Ulik dan Nano Biroe. Sementara Banyuwangi punya Suliana atau Ana yang digandrungi tua-muda. Mereka menggeliat dan menolak mati di tengah maraknya pembajakan. Di tengah kondisi dapur rekaman yang serba sederhana, bintang-bintang lokal menyebarkan hiburan kepada penikmat lokal.

Suatu siang pada awal Juli lalu, Rimta Mariam Ginting (24) tengah merekam suaranya di Studio FG21 milik Fakta Ginting. Ruangan seluas 28 meter persegi itu disekat menjadi dua, satu untuk ruang kontrol dan satu lagi ruang rekam. Kedua ruang itu disekat oleh kaca yang sudah buram. Fajar DJ Pinem (24), penggubah dan penata musik, sedang sibuk mengutak-atik panel-panel pada master control sembari sesekali memberikan instruksi kepada Rimta.

Di sudut ruangan berdiri gitar yang dua dawainya putus. Di ruangan depan, tamu mengipas-ngipas karena kepanasan. Studio itu merupakan rumah yang disewa Fakta dan dia sulap menjadi studio.

”Kondisinya memang tidak layak disebut studio,” kata Fakta.

Fakta tak dapat lagi berharap keuntungan finansial dari pengoperasian studionya. Seluruh biaya sewa dari para produser hanya cukup untuk membayar listrik. Bahkan, biaya perawatannya pun hampir tak ada. Padahal, dia mengeluarkan dana tak kurang dari Rp 200 juta untuk modal pembuatan studio itu. Meski demikian, dia cukup senang studionya menjadi salah satu penentu keberlanjutan musik pop Karo.

Studio itu menjadi tempat nongkrong para pencipta, penyanyi, dan produser lagu Karo. Mereka berdiskusi, berkreasi, dan membahas bisnis sambil makan atau minum bersama. Dari studio-studio seperti ini pula, nama Netty Vera dan Rimta melambung.

Persaudaraan

Dari keterbatasan itu pula, penyanyi pop daerah masih bisa mencari penghidupan dari panggung ke panggung. Penyanyi Ave Riana Barus (27) mengungkapkan, sekali manggung dia memperoleh bayaran Rp 800.000 sampai Rp 1 juta. Bayaran Rimta atau Netty bisa dua sampai tiga kali lipat. Namun, bayaran manggung itulah yang membuat Ave dapat memenuhi kebutuhan hidup serta menghidupkan lagu Karo.

Memasuki era MP3 dan DVD, hasil penjualan lagu lewat produser makin tipis seiring maraknya pembajakan. Dengan modal Rp 50 juta, penyanyi atau produser sudah dapat menghasilkan satu album dan jika laku dapat meraup untung hingga Rp 40 juta. Namun, ketika produser baru mengeluarkan 300 kopi CD, di pasar sudah beredar lima sampai sepuluh kali lipatnya dengan harga lebih murah.

”Kami ini seperti sapi Bengali. Kami yang menghasilkan susu, tetapi orang lain yang menikmati hasilnya,” kata Fajar beribarat.

Daya hidup para seniman lagu Karo bertumpu pada kekerabatan dan rasa persaudaraan. Sebagai pencipta lagu, Fajar tak pernah mematok harga. Malah sering kali dia memberikan lagu ciptaannya secara cuma-cuma kepada penyanyi yang dia kenal. Selama penyanyi itu bersedia menyanyikan lagunya, itu merupakan penghargaan bagi Fajar.

Hal serupa diyakini Jontinus Sinaga (37), pencipta lagu sekaligus anggota Trio Elexis, yang khusus menyanyikan lagu-lagu Batak Toba. Dia meyakini, lagu-lagu pop daerah seperti Karo dan Toba terus mengalun, antara lain, karena faktor kekeluargaan yang diterapkan Fakta dan Fajar.

Faktor lain, di Indonesia terdapat 8 juta sampai 9 juta orang Toba. Sedikitnya 2,5 juta orang merupakan penikmat lagu-lagu Batak Toba. Mereka tidak peduli mendengarkan dari VCD bajakan atau asli. Mereka inilah yang menopang keberlangsungan lagu-lagu Batak Toba.

Di Pasar Sambu, Medan, berderet toko yang menjual VCD lagu-lagu Karo dan Toba seharga Rp 10.000 per keping. Kepingan VCD itu dipajang berdampingan dengan kaus kaki, bedak, bahkan celana dalam.

”Sehari bisa laku sampai 100 keping. Untungnya lumayan, Rp 3.000 per VCD,” ucap pemilik Toko Migg Jost, Ulinar Sianturi (62).

Proses produksi lagu-lagu pop Batak Toba ataupun Karo malah sering dilakukan di Jakarta. Baringin Simanjuntak (66), pemilik BTB Studio di Pesanggrahan Timur, Jakarta, mengatakan, sampai sekarang masih kerap ada produser merekam lagu Batak Toba di studionya meskipun tak seramai era 1980-an dan 1990-an. Dalam sebulan, studionya mampu menampung hingga 100 shift rekaman. Namun, sekarang tidak melulu lagu Toba, banyak juga lagu-lagu dari Indonesia timur direkam di tempat Baringin.

Animo orang Karo ataupun Toba begitu besar terhadap lagu pop daerah. Begitu muncul lagu dan menjadi populer, penyanyinya akan kerap diundang dalam berbagai acara. Dari sinilah para penyanyi menyambung hidup.

Tak ada matinya

Di Denpasar, Bali, Sujaya (76) setia menjual album musik pop Bali lewat Toko Kharisma miliknya.

”Toko ini sudah berumur 30 tahun. Dan, saya akan mempertahankannya meski CD bajakan di mana-mana,” ujar Sujaya.

Keluhan serupa juga datang dari produser. Salah satunya adalah Ketut Asmara (46), pemilik Januadi Record, yang berlokasi di Batubulan, Gianyar.

”Kami sempat berjaya dengan memiliki 10 artis dan mampu menjual sekitar 70.000 kaset dan CD sejak tahun 2000-an. Tapi, sekarang, kami bisa menjual 25.000 keping CD atau VCD saja sudah bersyukur,” kata Asmara yang juga penyanyi pop Bali.

Di Bali, produsen musik lokal tak banyak, misalnya Aneka Record, Bali Record, Januadi Record, dan Jayagiri Record. Beberapa tak lagi bertahan memunculkan artis muda yang hit. Produsen tersebut memilih memproduksi kaset atau CD musik tari serta kidung.

Namun, menurut Asmara, masa depan musik pop Bali tetap ada peminatnya, tak hanya di Bali, tetapi juga para transmigran asli Bali di Sumatera dan Sulawesi. Para artisnya, lanjut Asmara, sering diundang manggung di luar Pulau Bali.

”Ya, kami ingin melestarikan budaya dan menggairahkan anak muda untuk terus berkarya,” ujar Asmara. (Mohammad Hilmi Faiq, Ayu Sulistyowati)

Sumber: kompas.com